Pola atau Pattern atau Apalah…

walking, morning, rural, nature, shadow, landscape, forest, fog, morning mist, woods, morning walk, walking, walking, walking, walking, morning, morning, shadow, shadow, shadow, shadow, shadow, fog, morning walk
Gambar oleh TamalRoy via pixabay

Ada satu hal yang terasa indah saat kita melakukan sebuah rutinitas. Ketika saya mulai berlari, saya biasanya berlari di jam yang sama setiap harinya. Biasanya jam 5.30 sampai 6.30, atau lebih cepat sedikit atau lebih lambat sedikit, tergantung situasi. Di jam-jam demikian hari terasa teramat sepi dan segalanya terasa lambat. Namun, di sela-sela suasana damai tersebut, saya mendapati sebuah hal yang indah tadi yang disebut sebagai pola.

            Sebuah pola yang tercipta dari rutinitas manusia lainnya. Seperti ketika saya baru keluar dari gang, saya pasti akan mendapati seseorang yang sedang mengantar kerupuk. Anehnya kami selalu bertemu di jam yang sama dan di tempat yang sama (semisal saya telat 5 menit, dia juga akan telat 5 menit). Ia mengendarai motornya dengan pelan sampai keluar gang dan saya berjalan santai menuju luar. Lalu dia meninggalkan saya sendirian di persimpangan jalan dan akan berhenti di sebuah warung makan di depan masjid. Dan kami akan bertemu lagi di situ lantaran ia menunggu seseorang menjemput kerupuknya (kebetulan searah dengan rute lari saya).

            Hal lainnya adalah para ibu-ibu yang menyapu halaman toko mereka. Kemudian para penyapu jalan profesional (saya lebih suka mengatakannya demikian ketimbang tukang sapu) yang teramat fokus membersihkan taman. Lalu ada sekumpulan ibu-ibu yang keluar dari perkampungan orang Hindu (di tempat saya tinggal biasanya orang hindu tinggal secara berkumpul dan teramat rapi di suatu tempat di pinggir kampung dengan bersahaja).

            Kalau saya berlari di sore hari polanya jauh berubah, bahkan bisa dikatakan saya cuman mendapati sedikit pola yang bila dituliskan maka akan muat di satu paragraft saja. Tapi akan tetap saya tuliskan. Di km ke 3 tepat di depan sebuah Sekolah Menengah Atas dan lapangan olahraga, saya biasanya berpapasan dengan seorang perempuan yang sangat tinggi dan bertubuh atletis. Ia rupanya seorang pelari yang cukup konsisten lantaran kerap mengecek smartwatch nya. Kemudian setelah berpapasan dengannya, saya biasanya akan disalip oleh seorang pelari yang merupakan anggota Tim SAR, saya tahu lantaran ia menggunakan baju Tim SAR. Tubuhnya benar-benar kering ibarat sebuah sosis yang dijemur di bawah matahari selama berjam-jam. Kepalanya botak dan selalu berlari dengan langkah yang tegas. Dan bila ia menyalip biasanya tak ada tanda-tanda ia akan muncul. Ia akan langsung menyalip dan berlalu seperti hembusan angin pinggir tebing di sebuah tempat bernama Sekaroh.

            Di hari tertentu polanya sedikit berubah. Di kondisi hujan juga pola tersebut berubah sepenuhnya. Dengan mengamati hal tersebut, saya jadi tidak merasa bersalah ketika tidak hadir mengisi pola-pola itu. Ibarat sekor semut yang hilang dari barisan, semut lainnya tidak terganggu dalam beraktivitas. Apalagi saya, seorang pelari yang hanya hadir untuk diri saya sendiri. Itu saja.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top