
Sekarang tanggal 23 Januari 2026. Mungkin sudah genap sebulan saya mulai berlari (kalau tidak salah hitung sih). Pagi tadi angin sangat kencang dan karenanya saya harus berlari menggunakan windbreaker. Bukannya saya tak suka, tapi windbreaker membuat tubuh saya tidak nyaman. Keringat yang keluar terasa licin dan lengket, membuat lari menjadi tidak menyenangkan. Sementara kalau dibuka nanti kedinginan. Serba salah.
Karena cuaca yang sedikit berangin itu, sepanjang jalan teramat sepi. Tak ada tanda-tanda pelari lainnya akan bermunculan. Mungkin takut kejatuhan pohon, atau mungkin takut kehujanan di kilometer tertentu. Pokoknya, karena sepi itu saya jadi bisa berlari dengan nyaman. Tiap beberapa waktu, hujan juga turun, seperti memberi semangat pada saya, membasahi tengkuk dan wajah saya secara bertahap.
Ngomong-ngomong saya ingin membahas sedikit pandangan saya tentang berlari. Dahulu, ketika SD hingga SMA, saya cukup dikenal dengan orang yang memiliki fisik yang tidak memadai. Maksud saya, tubuh saya tidak sekurus itu atau segendut itu (dulu), tapi tenaga yang dihasilkan oleh otot-otot saya, yang tak banyak ini, benar-benar tak bisa diandalkan. Bahkan ketika SD, saya teringat teman sebangku saya (dia seorang perempuan yang tinggi semampai) mengalahkan saya di ujian olahraga mengelilingi lapangan bola. Saya bahkan tak menyentuh garis finis.
Kemudian masuk masa SMP, di sini tidak terlalu ada kejadian yang tidak mengenakkan, paling-paling hanya kekalahan sewaktu bermain bola, atau lompat jauh yang tidak seberapa jauh, atau tolak peluru. Pokoknya selama SMP, saya rasa tidak ada olahraga yang cukup menguras fisik. Hal yang paling menguras fisik adalah kegiatan hiking yang berjalan entah berapa kilometer dari sekolah hingga ke suatu pantai yang tidak bisa dikatakan indah, pasirnya berwarna hitam dan aroma kotoran sapi muncul di sana-sini.
Masuk di masa SMA baru semuanya kelihatan jelas. Saya selalu tidak bisa menguasai olahraga seperti bermain voli, apalagi basket, apalagi berlari mengelilingi lapangan atau semacamnya. Ibaratnya saya adalah seorang manusia yang teramat lemah dan berada di bawah rantai makanan. Tidak memiliki niat sedikitpun terhadap olahraga. Sampai di satu titik orang orang kerap menyalahkan saya karena saya terlalu bodoh dalam permainan olahraga. Ya memang bodoh sih… Tapi mau gimana lagi, kan?
Sampai selesai SMA, saya tak merasakan ada sesuatu yang bisa dibanggakan di diri saya. Dalam hal olahraga ataupun akademik. Mungkin sebagian kecil orang memang tidak ditakdirkan untuk berbakat di salah satu bidang… Atau di semua bidang.
Bagi saya, hal-hal yang berkaitan dengan fisik benar-benar menakutkan. Seperti melihat sekumpulan monster tanpa busana, diam-diam keluar dari bawah ranjang di malam hari (ya saya tahu itu analogi yang begitu menjijikkan, tapi begitu buruk lah saya memandang kegiatan fisik). Mungkin itu juga ya yang membuat saya tertantang untuk berlari, atau untuk setidaknya mengikuti sebuah perlombaan half marathon resmi sekali seumur hidup. Ada sebuah perasaan ingin membalas semua keburukan yang pernah saya lakukan di masa lampau.
Lari adalah hal yang paling saya benci sejak dulu. Saya selalu muntah ketika berlari, perut sebelah kanan saya sakit seperti ditusuk oleh sebuah belati yang tumpul dan dipenuhi karat yang menjijikkan. Dengan mengalahkan lari, saya rasa saya bisa mengalahkan semuanya (terlalu optimis ya? Tapi biarlah). Meski kini saya bisa berlari 6 kali seminggu, selama 40 menit nonstop, sejauh 5 km dengan pace 8 (tidak bisa dikatakan cemerlang sih, hanya cukup). Lari tak pernah benar-benar menjadi sahabat setia atau semacamnya. Kaki saya tetap sakit, napas saya tetap buruk, dan mental saya tetap diuji di setiap sesi.
Tapi entah kenapa saya tetap berlari. Mungkin erat hubungannya dengan bagaimana saya yang selalu kalah di dunia. Dan, ketika memilih untuk berlari, saya punya sebuah opsi untuk tidak kalah. Sebuah opsi yang dinamakan kegigihan.
Saat berlari, di km tertentu saya kerap kali diuji oleh kopi keliling, atau bau sate, atau bau bubur ayam di pertigaan Monjok yang teramat menggiurkan. Tapi hanya saat berlari saya memiliki opsi untuk menolak segala kenikmatan. Karena dalam kehidupan sehari-hari saya pasti akan memilih kenikmatan lebih dulu. Seperti, kalau ada pilihan untuk tidak menulis blog, mungkin saya tidak akan menulis blog. Kalau ada pilihan untuk cabut dari kuliah dan keliling Indonesia tanpa beban, mungkin saya akan melakukan itu. Tapi untungnya, hidup tak selalu memberi pilihan.
Pokoknya dengan berlari, saya merasa saya memiliki kendali penuh atas fisik dan jiwa saya. Ketika tubuh saya lelah, mental saya mengambil alih. “Ayo satu kilometer lagi!” atau “Kalau tidak sampai jembatan Udayana dalam waktu sekian, kamu adalah pecundang.” Meski penuh tantangan dan lutut saya menjerit-jerit setiap pagi, berkata, “FLUFFY, KITA REST DAY HARI INI!” Tapi selalu terlintas di kepala saya, bahwa, kalau saya kalah di sini, besar kemungkinan saya kalah di kemudian hari. Lambat laun lari menjadi sebuah kebiasaan, kalau saya tak sempat lari di pagi hari, saya akan lari di siang hari, kalau tak sempat di siang hari, maka di sore hari. Untungnya belum pernah sampai di malam hari.
Ya saya benci windbreaker, sama halnya dengan saya membenci lari.
