
Sekarang tanggal 12 Februari 2026. Udah agak lama semenjak tulisan terakhir.
Sebenarnya gak ada target khusus bahwa sesi ini akan ditulis secara rutin, soalnya saya cuman menulis bagian ini ketika saya mengalami atau melihat sesuatu yang berhubungan dengan lari dan menarik untuk dibahas. Kebetulan beberapa hari yang lalu saya mendapati sesuatu yang menarik tersebut, tepatnya ketika saya melakukan long run sejauh 14 km (ehem…) di hari Sabtu pekan lalu.
Belakangan, saya menyadari kalau hari Sabtu dan Minggu, jalanan di Mataram tuh sangat ramai oleh pelari. Seperti hari Sabtu pekan lalu, ada banyak sekali orang-orang yang berlari di seluruh trotoar hingga pinggiran jalan. Saya mendapati pelari tiap beberapa meter. Di hari biasa, saya cuman mendapati satu atau dua orang aja, mungkin erat hubungannya dengan hari libur sekolah yang beberapa bulan belakangan ditambah menjadi dua hari (Sabtu dan Minggu).
Pagi itu kegiatan lari saya tak begitu menarik, seperti long run pada umumnya, kilometer pertama hingga ketiga rasanya seperti mau mati, kilometer keempat ke atas sudah mulai berlari di mode auto pilot. Semuanya berjalan lancar. Sampai di satu titik (tepatnya di cemare), saya mendapati sekelompok anak muda berlari berbarengan selayaknya serdadu yang berlatih untuk bertempur dalam waktu dekat. Mereka kelihatan tak begitu tahu tentang napas, pacing, atau stride atau semacamnya. Jadi, tiap beberapa meter satu persatu dari kelompok mereka tumbang. Yang pertama tumbang adalah seorang dengan tubuh gempal dengan wajah yang teramat pucat. Sejak awal saya pun yakin bahwa ia akan jadi yang pertama tumbang. Soalnya dulu waktu SD saya memiliki tubuh seperti dirinya (sekarang juga sih, tapi sudah lumayan berkurang) dan saya selalu menjadi yang pertama tumbang ketika berlari kelompok.
Sesaat si gempal tumbang, ia disusul oleh seorang temannya yang tinggi dan sedikit lebih cungkring. Ia berjalan pelan di sisi si gempal. Tak lama kelompok tersebut sepenuhnya tumbang. Beberapa orang tampak terengah, lalu tak lama seseorang menginisiasi untuk berlari lagi. Semua orang ikut berlari, kecuali si gempal tentunya. Ia memegang perut sebelah kanannya sambil memasang raut wajah ingin menangis. Hal demikian membuat saya sedikit iba, tapi saya tak mungkin menggendong dirinya, masih ada 10 kilometer lagi untuk saya tuntaskan. Jadi mau tak mau, ia saya tinggalkan begitu saja. Di putaran kedua, saya tak mendapati mereka, mungkin sudah pada pulang atau mengambil jalur yang berbeda. Melihat mereka berlari, saya jadi teringat alasan kenapa saya benci berlari bersama orang lain, khususnya pelari yang lebih mapan.
Saya orang yang percaya dengan tubuh. Apapun yang tubuh saya katakan akan saya dengarkan. Seperti, ketika perut saya sakit, saya akan memelankan lari. Kalau kaki saya agak pegal, saya akan melebarkan stride length dan melambatkan pacing. Tentu ada kondisi di mana saya memaksa tubuh mencapai batas maksimal, guna membiasakan diri di kondisi tak nyaman dalam waktu lama (soalnya itu inti dari endurance training kan?). Tapi kebanyakan lari saya adalah easy run, jadi saya hanya ngepush 2 kali seminggu. Kondisi saya dan teman lari saya tak mungkin sama. Apalagi kalau dia lebih senior atau lebih mapan. Akan ada kondisi di mana dirinya menarik saya ke dapan atau diri saya yang menariknya ke belakang. Saya benci kondisi itu. Saya tak suka dilihat sebagai orang yang menyusahkan. Maka tiap ada ajakan untuk lari bersama, saya selalu menolak.
Bukan bermaksud sombong atau tak suka mengobrol ketika lari. Tapi hanya dengan begitu saya bisa mendengarkan tubuh saya dengan jujur. Saya bukan orang yang kuat secara fisik ataupun mental. Tempo hari pun kaki kiri saya sakit, entah kenapa. Saat long run aja saya hampir menyudahinya di kilometer ke-13 karena kaki saya benar benar panas seperti terbakar. Jadi kalau lari sama orang lain pasti akan sangat menyusahkan.
Mungkin dalam kasusnya si gempal tadi, ia diajak oleh temannya dan menjadi sedikit termotivasi. Akibatnya ia mengikuti saja seberapa cepat teman-temannya berlari. Memang beberapa orang juga ada yang tidak bisa berlari sendirian (saya tak bisa mengerti kenapa tapi sebuah kewajaran bahwa saya dan orang lain tak bisa saling memahami satu sama lain). Memang apapun yang dilakukan bersama pasti menyenangkan sih. Tapi tolong kalau temen kalian keliatan ngos-ngosan, pelanin larinya. Atau kalau salah seorang teman kalian berbadan cukup gempal, ajak jalan aja, jangan lari. Kasihan lutut dan jantungnya.
