(Harusnya) Long Run…

Satu hal yang saya benci dari otot, adalah fakta bahwa mereka memiliki batasan yang nyata. Kemarin tanggal 24 Januari 2026, saya menuntaskan 10K pertama saya (artinya saya berlari sejauh 10 kilometer nonstop). Meski lagi-lagi saya ingatkan kalau pace saya seperti siput tua yang sudah pensiun dari kemiliteran. Benar-benar lambat dan tidak bisa dibanggakan. Tapi begitulah saya.

            Saat terbangun di pagi hari (tepatnya jam 4 pagi) saya langsung menegak sebotol elektrolit. Meminum americano dingin dan air putih satu gelas. Selepas itu saya hanya duduk memandangi sepatu, bukan bingung memilih sepatu. Melainkan bingung apakah saya memang harus sekali untuk berlari 10 kilometer di pagi ini?

Soalnya biar bagaimanapun, kondisi di luar cukup tidak kondusif, angin begitu kencang sampai beberapa ranting di tempat tinggal saya berjatuhan. Lalu muncul satu atau dua pembenaran, seperti “Ah bahaya ini, nanti kalau ketimpa pohon di Udayana gimana?” atau “Ah mungkin bisa besok saja, soalnya  kemarin kan sudah lari juga.” Demikianlah rasa malas selalu mencoba memengaruhi saya di pagi hari. Meski begitu, keputusan untuk berlari sudah dibuat jauh-jauh hari, maka saya pun memakai sepatu.

Di kilometer pertama hingga ketiga, rasanya tak ada suatu hal yang menyulitkan. Pagi itu seperti pagi biasa yang saya lalui. Hanya saja hari ini tidak hujan dan setelah berlari 20an menit, angin tidak begitu berhembus kencang. Kaki saya bergerak dengan cukup alami, begitu juga tangan saya yang berayun tanpa beban.

Masuk kilometer keempat tiba-tiba perut saya berbunyi, seperti menagih jatah sarapan (padahal saya bukan orang yang nyaman dengan sarapan). Tapi rasa lapar itu terus menjadi tiap kaki melangkah. Maka saya mampir di swalayan yang buka 24 jam. Membeli sebuah cheescake dan sebotol larutan elektrolit. Saya memakani cheesecake itu dengan lahap dan menegak elektrolit sambil memandangi jalan yang sepi. Kemudian bertanya pada diri saya, sebenarnya apa yang saya kejar sampai harus melakukan long run di hari sabtu pagi. Pikiran demikian memang sering muncul ketika saya sudah melakukan suatu hal setelah setengah jalan. Karena pada dasarnya, saya memang orang yang cukup plin-plan sih.

Kemudian saya mulai kembali berlari. Di kilometer kelima, entah kenapa puting saya tiba tiba terasa pedas, belakangan saya ketahui bahwa gesekan baju dryfit yang basah oleh keringat menyebabkan puting sedikit terluka. Jadi tolong, buat siapapun yang membaca ini (utamanya laki-laki), sayangilah puting anda dengan menggunakan vaseline atau setidaknya hansaplast. Karena hanya dengan begitu puting kita tidak terasa pedas sepanjang long run.

            Di kilometer keenam, saya rasa tidak banyak hal yang berarti, kecuali gesekan puting itu terus terjadi. Hingga di kilometer ketujuh, entah kenapa seluruh kaki saya seperti ditempeli oleh knalpot motor dari berbagai sisi. Rasanya sedikit panas dan sedikit sakit.

Di titik inilah saya keluar dari zona nyaman saya selama ini. Biasanya saya hanya berlari 5km dan 6km adalah batas fisik saya yang sesungguhnya. Kemudian terpikir kembali untuk selesaikan saja, toh sudah 7 kilometer ini, sudah lebih jauh dua kilo dari easy run. Tapi lagi-lagi, mental saya mengambil alih perasaan itu. Rasanya mental merupakan senjata dalam segala hal ya? Pantas saja saat menonton bola, tak jarang para komentator atau pundit mengatakan “Klub ini tidak punya mental juara, makanya bermain demikian buruknya.”

            Tapi saya rasa mental pun tak bisa selamanya diandalkan. Di kilometer kesembilan, perlahan-lahan kaki saya mulai sakit bukan main. Napas saya menjadi pendek, sependek sumbu amarah saya. Entah berapa kali pun saya mencoba mengatur napas, tapi napas itu tak pernah mau teratur, napas saya kian lama kian memburuk dan tarikannya berakhir sebelum udara masuk sepenuhnya ke paru-paru. Seperti oksigen di bumi direnggut oleh seseorang yang teramat rakus dan orang tersebut berlari di sebelah saya. Seperti itulah bagaimana fisik saya memiliki batasan. Di samping itu saya rasa puting saya mulai berdarah atau semacamnya.

Ah, pokoknya benar-benar hari yang buruk. Sampai-sampai menjelang akhir sesi lari, saya berjalan. Sungguh selama berlari ini saya tak pernah berjalan sekalipun di sela sela lari. Bagi saya, saya pergi untuk lari pagi, maka saya akan berlari selama mungkin. Dan, bila garis lari tersebut terputus oleh jalan, maka selesailah lari saya, (saya tahu itu seperti toxic mentality atau semacamnya, tapi mau bagaimana lagi kan? Saya pun seorang manusia yang memiliki satu atau dua hal yang tidak ingin saya kompomi. Salah satunya berjalan saat lari). Namun sepertinya saya kalah lagi. Tapi ya sudahlah, saya juga terbiasa untuk kalah jadi mau bagaimana lagi, kan?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top