
Nggak-nggak, judul di atas gak beneran kok… yah kalau ditanya lebih serius, memang ada benernya sih. Tapi gak sepenuhnya bener! Hehe…
Sebelumnya mari kita ucapkan selamat tinggal ke tahun 2025. Yang sama sama kita sepakati sebagai tahun terburuk untuk generasi Z. Seriusan. Maksud saya, apa apaan sih… kok ada tahun kayak gitu. Demo besar-besaran yang berujung pada kehampaan, pemerintah gak becus menangani bencana alam, bahkan matinya salah satu gajah favorit saya di Taman Nasional Tesso Nillo! As*. Maaf…. ehem… sampai di mana tadi? oh iya. Tahun 2025 beneran buruk, tapi meski banyak hal buruknya, bukan berarti hal baiknya nihil. Banyak kok yang baik, banyak…. saya yakin…. iya kan?
Meski lebih banyak hal buruk yang menonjol, namun seenggaknya saya rasa saya bisa mengambil hikmahnya… seperti demo besar-besaran kemarin. Gak semua hal yang besar yang dilakukan secara kolektif dan diberi harapan penuh akan terselesaikan dengan benar, apalagi permasalahan pribadi kita. Kita mengupayakan suatu hal yang teramat penting buat kita dan dilakukan dengan sungguh-sungguh. Kalau memang bukan jalannya maka akan berakhir mengerikan. Kalau kata salah seorang ‘terdekat’ saya “Sisakan ruang ikhlas ya?” Maka untuk segala perjuangan, sisakan ruang ikhlas. Walau sudah berusaha sekuat mungkin, ada aja potensi untuk gagal… demo sialan itu contohnya.
Salah satu hal yang teramat penting buat saya di tahun ini adalah bertemu dengan seorang perempuan yang saya rasa “ini nih my soulmate!” but then, kapooof… tepat beberapa hari sebelum berakhirnya tahun ini, kami berpisah dengan cara yang saya rasa agak buruk dan sangat disayangkan. Tapi seperti kata saya, semua hal buruk ada hikmahnya. Karena dia, saya menulis 11 lagu. Karena dia saya menulis beberapa cerpen. Karena dia satu novel telah rampung. Untuk dia terimakasih… sungguh. Untuk sesaat saya menjadi orang paling produktif di dunia. Bahkan saya yang punya penyakit paru-paru ini jadi punya mimpi untuk menjadi pelari marathon. Saya yang dulu cuman bisa lari 100-400 meter, sekarang bisa lari 3km-6km. TANPA HENTI! Gimana? Motivasi patah hati emang yang paling kuat sih buat menyiksa tubuh tuh… Saya sampai tulis sebuah esai dengan judul “Teruntuk Otot, Mohon Maaf.” mungkin nanti akan di upload di sini saat pikiran saya sudah tenang. Lagi-lagi, karena dia saya menemukan jati diri saya. Dan gak ada hal yang lebih indah dari itu.
Gak ada hal yang lebih indah dari meninggalkan sesuatu yang baik di tempat kita singgah. Maka teruntuk perempuan itu, Terima Kasih.
Hidup kita gak sesederhana perjuangan satu hari…. Saya suka mengumpamakan hidup tuh kayak lari marathon atau semacamnya. Kita diharuskan untuk terus berlari apapun yang terjadi… Maksud saya adalah, hidup gak akan selesai selama kita terus berlari atau bergerak (berjalan, merangkak, merayap, atau ngesot, you name it lah!). Tapi tentu setiap event lari marathon ada batas waktu tertentu yang akan mengejar kita, kalau di hidup namanya kematian. Bagi saya, gak penting kita sampai mana… yang penting kita udah berusaha dan mati dalam keadaan berusaha. Yang saya rasa gak bener tuh kalau kita terus terusan diem, meratapi semuanya dan gak mau bergerak barang sedikitpun… Okay lah kalau lari diem lari diem, atau jalan diem jalan diem. Kita juga butuh fase diem itu di beberapa tempat. Tapi kalau terus terusan diem, rasanya memalukan, sungguh. Bukan karena diemnya salah ya, tapi ayolah… ini hidup… anggap aja diri kita ikan tuna yang harus terus bergerak agar tetap hidup. Hidup tuh setiap hari, mati cuman sekali. Isi hari hari itu dengan hal-hal yang berarti.
Mungkin akan ada pembaca yang berkata begini, “Fluffy, judulnya gak nyambung…” maka izinkan saya menjawab, persetan… bercanda. Maksud saya begini, banyak orang beresolusi untuk jadi sesuatu yang baru di tahun depan. Buat saya, tahun depan adalah melanjutkan kehancuran saya di akhir tahun ini. Saya cuman perlu melanjutkan segala rutinitas baik saya, dan dengan begitu saya gak kehilangan diri saya saat ini. Saya akan terus melangkah ke depan dengan sepatu yang sama. Paru paru yang sama. Tendon yang sama. Jantung yang sama. Dan langkah yang sama. Akan lebih mudah bila tetap begitu. Tinggal meraba garis finish di depan dan stick to the plan. Maka, saya memulai tahun ini dengan hancurnya saya. Dengan harapan dapat membangun ulang secepatnya. Semoga hal-hal baik menyambut kita di tahun ini. Kalau para pembaca menemukan sesuatu dari tulisan ini, itu sudah lebih dari cukup. Saya harap ucapan saya gak menyinggung siapapun.
Gak ada hal yang lebih indah dari meninggalkan sesuatu yang baik di tempat kita singgah.

hepi nu yerrr king emyu
Hahaha, Hepi nu yerr!