Musik yang Saya Dengarkan Ketika Berlari

Black and white close-up of a turntable playing a vinyl record, emphasizing vintage aesthetics.
Gambar oleh Anton H via Pexels

Selama berlari, saya sering mengamati pelari lainnya. Biasanya mereka terbagi dua, ada yang mendengarkan musik, ada yang mendengarkan napas mereka sendiri. Suara napas saya seperti kucing yang terkena asma, sehingga mau tidak mau saya masuk ke golongan pertama.

Maka, mari kita berbicara tentang musik.

Saya begitu menyukai musik. Musik jenis apa saja, musik indo, barat, jpop, kpop, semuanya. Mungkin kalau diibaratkan playlist saya seperti sebuah negara yang diisi oleh berbagai macam ras manusia dari berbagai belahan dunia. Soalnya biar bagaimanapun, saya adalah orang yang tak bisa dikatakan memiliki selera yang bagus soal musik. Syarat masuk playlist saya cukup enak didengar, tidak perlu paham arti atau maksud dari si penulis lagu lantaran saya pun tak begitu peduli. Namun belakangan, ketika berlari, saya cenderung memiliki sebuah selera yang teramat sempit. Saya menyukai musik-musik yang lemah lembut dan agak berbisik dan sedikit melankolis dan sedikit hopeless romantic. Serius.

             Saya bukan mencoba menjadi seorang sadboy atau semacamnya, tapi entah kenapa musik-musik dengan tipe seperti itu sangat cocok dengan ritme lari saya. Saya bisa sedikit lebih tenang dan terasa tak dikejar oleh apapun. Semisal saya mendengarkan musik-musik rock atau heavy metal, kemungkinan besar napas saya akan lebih dulu habis dan saya tergeletak tak berdaya di km pertama. Entah yang mengalami ini hanya saya atau ada beberapa orang juga yang beranggapan sama, musik-musik bersemangat begitu bisa membuat kita ikutan bersemangat  dan tak sadar diri soal kemampuan fisik. Dengan begitu tubuh lebih cepat lelah dan lari jadi tak nikmat sama sekali.

Ngomong-ngomong mari kembali ke topik utama.

Beberapa band yang paling sering saya dengarkan ketika berlari adalah Cigarettes After Sex, The Walters, Morissey (tak bisa dikatakan band soalnya dia vokalis dari The Smith), dan belakangan saya suka mendengar band Sore. Oh saya begitu mencintai Sore, lagu-lagunya begitu indah dan membuat saya serasa melayang di ruang hampa dan sunyi (aneh juga ya, soalnya kan sedang mendengarkan musik kok bisa sunyi? bodoamat).

Tentu saja dari band-band di atas tidak semua lagu mereka saya dengarkan, ada lagu mereka yang saya sukai dan ada yang saya benci (kecuali Cigarettes After Sex, saya mendengar hampir keseluruhannya). Namun, meski begitu, saya tetap menambahkan beberapa lagu yang tidak saya sukai tersebut ke dalam playlist. Soalnya kalau mendengarkan lagu yang kita sukai terus menerus, rasanya akan sangat membosankan, ibarat memakan makanan favorit yang berlimpah ruah sampai kekenyangan dan mual. Tentu mual tidaklah mengenakkan, apalagi mualnya karena sesuatu yang kita sukai. Sementara kalau dicampur aduk antara yang saya sukai dan tidak sukai, rasanya seperti mendapatkan imbalan dari perjalanan yang teramat membosankan, seperti mendapatkan dorongan kecepatan ketika memainkan game balap mobil atau semacamnya.

Berikut beberapa lagu dari band-band di atas yang paling saya suka:

  • CAS: Cry, K, Sweet, Apocalypse, Holding You Holding Me.
  • The Walters: Sweet Marie, I Love You So
  • Morissey: My Love Life
  • Sore: Setengah Lima, Ssssst…, Karolina.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top